Berry Juliandi, Bawa Pulang Penghargaan World Federation of Science Journalists

Dosen IPB

Sejak dulu sampai sekarang ada begitu banyak dosen IPB University yang membanggakan karena prestasinya banyak diakui bukan hanya di Tanah air Indonesia bahkan dari luar negeri, salah satu dosen yang sanagat membanggakan bukan hanya untuk IPB University namun juga Indonesia adalah Dr. Berry Juliandi.

Dr. Beery merupakan peneliti Departemen Bilogi IPB University yang berhasil membawa pulang Award World Federation of Science Journalists yang dilaksanakan di Swiss beberapa waktu lalu. Dr. Berry yang seorang alumni program sarjana Departemen Bilologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB University ini berhasil mennyingkarkan enam finalis lainnya dari berbagai daerah di wilayah eropa lainnya.

World Federation of Science Journalists merupakan sebuah penghargaan dari wartawan sains dunia. Penghargaan tersebut berupa penghargaan liputan terbaik media yang tergabung dalam wartawan sains dunia. Dalam penghargaan tersebut disebutkan Dr.Berry dan Dyna merupakan ilmuwan yang aktif dalam politik. Dalam sebuah kompetisi media sains ini aktivitas dan kegiatan Dr. Berry diikuti selama satu tahun dan ditulis menjadi sebuah artikel. 

Bukan hanya sebagai peneliti muda, Dr Berry juga aktif terlibat dalam mengadvokasi pemerintah terkait pembuatan peraturan- peraturan untuk diterapkan bagi para peneliti dalam wadah organisasi yang dinamakan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Sebuah wadah bagi ilmuwan muda terkemuka Indonesia.

Selain penghargaan World Federation of Science Journalists Dr. Beery juga menjadi salah satu dari lima penerima Wallacea Grant Award British Council Newton Fund-Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

British Council adalah organisasi pemerintahan Inggris Raya yang mengalokasikan dana penelitian lewat organisasi bernama Newton Fund. Setiap tahun, organisasi ini membuka peluang riset tentang topik-topik yang beragam. Salah satu topik yang ditawarkan pada tahun 2018 mengenai daerah Wallacea. Dr. Berry telah mendaftarkan proyek penelitiannya sejak tahun 2017.

Salah satu yang menarik di daerah Wallacea, menurut Dr. Berry, adalah aktivitas manusia yang semakin meningkat. Perkebunan kelapa sawit dan pembangunan-pembangunan lainnya mempengaruhi kehidupan flora dan fauna khususnya di Pulau Sulawesi. Semakin banyak spesies yang hybrid  menjadi masalah yang semakin dikhawatirkan.

Setidaknya kata Dr. Berry ada tujuh spesies monyet di Sulawesi dan semakin banyak ditemukan monyet hybrid. Maksudnya, yang tadinya tidak bertemu dan tidak kawin karena beda spesies, jadi bisa kawin. Lalu keturunannya mandul. Keturunan yang mandul ini, lanjutnya, dapat menuju pada kepunahan suatu spesies.

Dr. Berry sudah menyadari masalah ini sejak tahun 2001 saat menjalani studi program magister dan melakukan penelitian tentang monyet di Sulawesi. Ia menduga bahwa aktivitas manusia menyebabkan tempat tinggal fauna semakin tergeser, sehingga mempertemukan dua spesies dan menyebabkan perkawinan. 

Untuk itu, Dr. Berry dan tim mengambil data-data hewan, mikroba, tumbuhan dan semua data biodiversitas di Wallacea. Selain itu, data geologi dan iklim selama jutaan tahun dikumpulkan dan digabung menjadi suatu model untuk memprediksi masa depan daerah Wallacea yang bernama fore-casting. Proyek ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengambil keputusan untuk menjaga kelestarian spesies-spesies yang terdapat di daerah Wallacea.

Selain Dr. Berry masih ada banyak dosen dan mahasiswa IPB yang terus mengukir prestasi baik secara nasional maupn Internasional. IPB University juga langganan setyiap tahunnya menempati posisi tiga besar penghargaan dosen berprestasi tingkat nasional yang seleksinya dilaksanakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Posting Komentar

0 Komentar