Opini : Sandiaga Uno dan Jokowi Rajin Gerilya Pasar

Pasar merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat akar rumput. Dan hal ini disadari betul oleh kedua pasangan calon nomor urut 1 dan 2. Sudah banyak pasar tradisional yang disambangi oleh Sandiaga Uno maupun Joko Widodo. Dengan seringnya para pasangan calon ini datang ke pasar, ini membentuk opini publik bahwa kedua pasangan calon presiden maupun wakil presiden ini sangat peduli terhadap ekonomi kelas menengah ke bawah. 

Opini

Seperti yang kita tahu, bahwa pasar adalah tempat dimana banyak pedagang kecil berkumpul dan berinteraksi. Berinteraksi langsung dengan para pedagang bisa dengan mudah mengambil simpati pedagang. Pedagang pasar merupakan ceruk suara yang paling potensial, mengingat permasalahan Indonesia adalah ekonomi. Dengan datang dan mendengar keluhan masayarakat langsung seperti itu, pesan atau substansi kampanye akan mudah mengena pada warga.

Apa Perbedaan Kedua Paslon Ini Ketika Berkunjung Ke pasar?
Sandiaga Uno sebagai pasangan calon nomor dua selalu berkunjung ke pasar dan meyakinkan bahwa banyak harga harga yang sudah mulai naik dan memberatkan warga. Seperti sindiran tempe setebal ATM, itu seolah olah memantik perang opini terhadap kedua capres. Sandiaga Uno di sini ingin mengatakan bahwa program kerja Jokowi di bidang ekonomi mikro tidak berjalan, meskipun secara makro naik jadi 5.2%, tapi itu tidak dirasakan masyarakat bawah.

Tapi di sini jokowi juga tidak tinggal diam mendapati framing yang dilakukan Sandiaga Uno soal kegagalan program ekonomi. Jokowi lewat beberapa pidatonya langsung membalas bahwa sebagian besar harga harga di pasar induk relatif stabil dan tidak ada kenaikan harga. Hal ini dikarenakan stok untuk bahan pangan sudah tercukupi. Strategi turun ke pasar kedua kubu ini mengundang beberapa ahli untuk memberikan opini masing-masing.

Djayadi Hanan Direktur dari SMRC berpendapat bahwa langkah kedua kubu untuk turun langsung ke pasar ini adalah strategi untuk mendapat simpati masyarakat menengah ke bawah.  Dengan kedua kubu yang sering datang ke pasar, tentu menimbulkan persepsi bahwa mereka sangat peduli terhadap ekonomi masyarakat bawah. Ini semakin diperkuat oleh Sandiaga Uno yang berkata lebih percaya emak-emak daripada data resmi dari BPS.
Ini juga merupakan strategi untuk mendapatkan simpati masyarakat, seperti yang kita tahu, ibu rumah tangga adalah pihak yang paling terdampak soal gejolak harga pasar. Ibu rumah tangga juga merupakan tipe pemilih yang emosional dan sangat loyal dalam mendukung sesuatu atau seseorang yang disukai. Kengototan kedua pasangan calon dalam menggaet segmentasi ini bukanlah hal yang mengherankan, karena mayoritas warga Indonesia adalah kelas menengah kebawah.

Kenapa Harus Jokowi dan Sandiaga? Kenapa Tidak Ma’ruf Amin dan Prabowo?
Alasan keduanya yang sering berkunjung ke pasar adalah masalah personal branding. Jokowi sudah identik dengan blusukan dan kepedulianya dengan rakyat kecil. Jokowi sebelum nyapres juga sudah dikenal sebagai orang yang sering turun ke masayarakat. Oleh karena itu, sosok Jokowi lebih mudah mendapat simpati ketimbang Ma’ruf Amin yang segmentasinya warga agamis dan pesantren.

Sandiaga Uno juga menjadi sosok yang mudah berbaur ketika berkunjung di pasar, hal ini karena Sandiaga masih muda dan akan sangat mudah mendapat perhatian ibu-ibu. Sandiaga juga sebelumnya menjabat sebagai ketua Asosiasi Pedagang Pasar. Sehingga sosoknya akan lebih mudah diterima. Opini berbeda akan terbangun jika Prabowo yang datang, karena perawakan Prabowo yang tegas dan garang.

Ya, pada dasarnya tidak masalah siapa pun nanti yang akan menjadi presiden dan calon presiden Indonesia. Hanya saja diharapkan pasangan terpilih nantinya bisa menjadi pemimpin yang amanah dan benar-benar membawa kemenangan bagi Indonesia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.