Perusahaan yang Lahir Dengan Nama Raja Garuda Mas Ini Menyalurkan Listrik Untuk Masyarakat


Image Source: Asianagri.com

    Sejak lahir dengan nama Raja Garuda Mas, Royal Golden Eagle (RGE) selalu memandang masyarakat sebagai bagian penting bagi perusahaan. Mereka ingin memastikan selalu memberi manfaat kepada masyarakat. Inilah yang membuat RGE rela bersusah payah menyalurkan listrik untuk warga di sekitarnya.

    Didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto pada 1967, Royal Golden Eagle mulanya bernama Raja Garuda Mas. Mereka merupakan korporasi yang menggeluti pemanfaatan sumber daya alam. Kini, RGE membawahi tujuh anak perusahaan yang beroperasi di beberapa sektor berbeda. Unit bisnisnya itu tercatat ada yang menggeluti industri pulp dan kertas, kelapa sawit, selulosa spesial, serat viscose, serta minyak dan gas.

    Oleh pendirinya, Raja Garuda Mas diarahkan untuk ikut peduli terhadap masyarakat. Kini setelah bertransformasi menjadi RGE, kebijakan serupa tetap dijalankan. Itu terbukti melalui banyak hal. Salah satunya adalah penyaluran listrik kepada masyarakat.

    Saat ini, harus diakui Indonesia masih dibayangi ancaman kekurangan pasokan listrik. Pada Agustus 2017, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan negeri kira bisai mengalami kekurangan pasokan listrik pada tahun 2018-2019.    

    Hal itu dikarenakan suplai listrik per tahun seharusnya di angka 4-4,5 Gigawatt (GW). Namun, praktiknya saat ini pemerintah baru sanggup menyuplai di kisaran 3 GW.

    "Perlu menjadi perhatian pemerintah, Kementerian ESDM sebagai regulator, agar pasokan listrik bisa terjamin. Untuk dua tahun ke depan," ujar Fabby di Merdeka.com.

    Menyikapi situasi seperti ini, pemerintah sebenarnya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak terutama swasta. Mereka diharapkan bisa membantu menyelesaikan masalah kekurangan pasokan listrik yang dihadapi. Kesulitan mendapat akses listrik bisa membuat aktivitas rumah tangga maupun perekonomian terganggu.

    Royal Golden Eagle mengetahui kondisi itu. Namun, mereka tidak hanya diam berpangku tangan. Sebisa mungkin grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas ini mencoba mengurangi beban pemerintah dalam meningkatkan jumlah pasokan listrik.

    Dengan cerdik, RGE bisa mengarahkan dua anak perusahaannya, Asian Agri dan Grup APRIL, untuk mampu mandiri menyediakan energi listrik sendiri. Itu sudah sangat membantu. Namun, mereka tidak hanya menyuplai untuk keperluannya sendiri. Asian Agri dan APRIL bahkan mampu membantu masyarakat dengan menyalurkan listrik ke mereka.
    Asian Agri contohnya. Perusahaan yang berkecimpung di industri kelapa sawit ini mengolah limbah produksi menjadi sumber energi listrik. Dengan itu, mereka mampu memutar operasional perusahaan dan menyalurkan listrik sisanya ke masyarakat.

    Sejak 2015, Asian Agri memang memutuskan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG). Mereka melakukannya dengan cara memanfaatkan limbah produksi.
    Perlu diketahui, dalam proses pengolahan kelapa sawit dihasilkan limbah yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME). Ini merupakan limbah cair yang menjadi hasil sampingan produksi.

    Asian Agri sebetulnya sudah melakukan pengolahan POME. Mereka memanfaatkannya sebagai bagian dari Land Application untuk perkebunan kelapa sawit. POME mulanya difungsikan sebagai substitusi pupuk, penjaga kelembapan tanah, serta berguna sebagai penahan erosi  bagi tanaman sawit.

    Namun, Asian Agri kemudian menemukan pemanfaatan lebih lanjut POME. Mereka bisa mengolahnya sebagai sumber energi listrik tenaga biogas. Memanfaatkan teknologi dari Jepang, limbah cair kelapa sawit diproses sedemikian rupa menjadi listrik.

    Langkah ini sangat berarti bagi kelestarian lingkungan. Pasalnya, limbah bisa menghasilkan gas metana. Jika dilepas ke udara, metani berbahaya karena memicu efek rumah kaca. Hal inilah yang menjadi dasar kemunculan pemanasan global.

    Namun, Asian Agri bisa menangkap gas metana itu menjadi sumber energi listrik biogas. Akibatnya tidak ada zat berbahaya yang mereka lepaskan dari proses produksi.

MENYALURKAN SISA KELEBIHAN LISTRIK KE MASYARAKAT

    Asian Agri akhirnya membangun sejumlah PLTBG untuk memastikan suplai listrik ke perusahaan. Hingga Januari 2018, sudah ada tujuh PLTGB yang dibangun. Fasilitas tersebut tersebar di tiga provinsi, yakni Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatra Utara.

    Setiap PLTBG milik anak perusahaan RGE itu memiliki kapasitas menghasilkan listrik sebesar 2,2 megawatt. Oleh Asian Agri, energi itu dipakai untuk menjalankan operasi perusahaan. Namun, ternyata mereka hanya membutuhkan 700 KW, sehingga ada listrik tersisa sebanyak 1,5 KW.
Karena ingin selalu membantu masyarakat, Asian Agri mengambil inisiatif. Sisa energi yang dihasilkan dari setiap PLTBG disalurkan ke masyarakat di sekitarnya.

Anak perusahaan yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini menjalin kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam pelaksanaannya. Menurut perhitungan mereka, satu PLTBG saja akan mampu mendukung sekitar tujuh ribu rumah. 

Jumlah orang yang terbantu oleh keberadaan PLTBG bakal sangat banyak. Karena berencana membuat 20 PLTBG hingga 2020 nanti, ke depan setidaknya akan ada 28 ribu rumah yang menikmati listrik dari Asian Agri.

Selain Asian Agri, Grup APRIL juga mampu melakukan kontribusi bagi penambahan suplai listrik. Saat ini, unit bisnis bagian grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini gencar meningkatkan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Mereka melakukannya karena hendak menekan pemakaian energi fosil.

Oleh sebab itu, APRIL yang bergerak di industri pulp dan kertas memanfaatkan limbah hasil produksinya sebagai sumber energi listrik. Dalam proses produksi terdapat sisa hasil produksi yang lindi hitam atau black liquor. Lindi hitam merupakan limbah cair yang mengandung padatan sebesar 70%-72%. Ini dihasilkan setelah kayu dimasukkan ke dalam digester, didaur ulang dari digester pada proses pembuatan pulp dan kertas.

    Setelah didaur ulang, lindi akhirnya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Kuncinya adalah pengoperasian ketel uap pemulihan (recovery boiler) terbesar di dunia di pabrik APRIL. Fasilitas inilah yang menangkap energi dari lindi hitam (black liquor), yang berasal dari proses pembuatan pulp, dan mengubahnya menjadi listrik.

    Selain memanfaatkan lindi hitam, APRIL juga mampu memanfaatkan metanol sebagai energi dalam tungku pembakaran. Penting untuk dipahami bahwa metanol hadir dari proses penyulingan dan penguapan (evaporasi) yang melibatkan lindi hitam. Lagi-lagi sumber energi ini semakin mengurangi pemakaian energi fosil yang kurang ramah lingkungan.

    Selain dari lindi, APRIL juga dengan jeli telah memanfaatkan limbah dari pembersihan kayu. Potongan kulit kayu dan kotoran bisa mereka olah menjadi energi biomassa.
Berkat itu, APRIL mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Per tahun mereka sanggup menghasilkan listrik setara dengan 390 megawatt per tahun. Jumlah itu sudah cukup untuk memutar operasional perusahaan. Bahkan, unit bisnis RGE ini masih memiliki sisa energi yang mereka salurkan kepada masyarakat. Sejak 2016, APRIL mampu menyalurkan listrik sebesar 10 megawatt ke masyarakat melalui PLN. 

Lagi-lagi APRIL menjalankan arahan pendirinya. Sejak bernama Raja Garuda Mas hingga kini, mereka memang diharapkan untuk mampu memberi manfaat kepada masyarakat. Penyaluran energi listrik sisa oleh APRIL itu menjadi contohnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.